Arsitek adalah Tentang Perspektif, Improvisasi, dan Humanitas

::: peniruan tanpa malu…

ini benar adanya, dan aku sangat merasakan prihatin yang luar biasa… tapi juga bingung dengan cara mereka yang dengan bangga menjajakan tiruan-tiruan mereka… yang harfiah, mentah, dan tanpa penjiwaan….

Bagaimanalah hendak kita berkisah pada generasi setelah ku., tentang rumah besar bernama raja romawi, tentang gaya tiang megah laksana istana yunani, lalu gaya balkon barbie laksana kisah shakespeare dulu.

Kemana aku harus mengkiblatkan daya tarik mereka.. ketika hendak ku senangkan ilmu mereka tentang rumah adalah jiwa sahaja pemiliknya, genteng tanah merah adalah kecerdikan pekerja kita, sirap dan kanopi kecerdikan leluhur kita yang diadaptasi penjajah kita sekalipun.. 

Bahkan ketika negeri kita memiliki museumnya yang besar tentang adaptasi penjajah terhadap kecerdikan pribumi kita dahulu, contoh-contoh itu perlahan pasti kalah oleh etalase-etalase kaca.

Prihatin….

::: Arsitektur bukan hanya ruang-ruang, bentuk bentuk yang indah, serta ekspresi kreatifitas. Lebih dari itu, ia adalah manusia-manusia dan kehidupan..

Benar dan indah adanya. Arsitek adalah manusia yang terbeli karena gagasannya, penjiwaannya, penalarannya, dan pemahamannya… Sedikit yang mengerti itu di masa kini, entah dimasa depan nanti. Ketika ada yang rendah diri mendengar gaung arsitek, sepatutnya kita mengingatkan mereka tak pantas merasa kalah karena mereka individu dengan gagasan dan karya. 

Ketika ada gema bahanan merendahkan arsitek sebagai tukang gambar, maka kita perlukan sikap memberi mereka kebebasan mengeluarkan ide mereka lalu mengarahkan salaknya….

Arsitek, kebanggaanku adalah pada perspektifnya, improvisasinya, bahasa universalnya, dan humanitasnya… Identitas dan ego pun tak kalah jadi pembelajaran dalam kematangan karya dari hari ke hari. Sadarkan itu selalu ada dalam ingatanku sendiri…

===
Tulisan komentar yang kusampaikan, terinspirasi oleh tulisan mas Arya Poetra dalam Mana Identitas Arsitektur Kita ?

Mungkin kami ciptaan yang tak pandai, tapi kami belajar cepat tentang ciptaan bernama persahabatan

Kami bersahabat bukan dalam dongeng, melainkan dalam ujian berat yang menguji ketegaran kami saling memikul. Berat, ataupun sangat ringan.

Persahabatan bukan tentang memperkuat cangkang kami, melainkan memperhalus senyum kami untuk menebar ketulusan pada luar kami.

Jika celaan datang dari mata menghujam kami, maka mereka takkan siap menerima kami sekaligus. Tapi kami bukan rantai mati, kami kelemahan.

Kuumpamakan kalian sebagai tata surya, maka persahabatan kami tak lebih dari planet. Mengorbit padamu, diamati olehmu.

"Mungkin kami ciptaan yang tak pandai, tapi kami belajar cepat tentang ciptaan bernama persahabatan."

@wiedesignarch

"Ketidakhebatanku itu, seperti butuh pangan akan keberadaan kekuatan yang lainnya… Tapi bukan seperti menghiba, melainkan merindukan…"

@wiedesignarch (via mymiraclesandstories)

"bintang hanya sejengkal dari sujud, dan malam menjadi lebih luas dari bumi. Namun, lalai."

@wiedesignarch (via mymiraclesandstories)

"malam dan bintang, dua kenyataan yang paling dekat, dan paling cepat perginya"

@wiedesignarch (via mymiraclesandstories)

Enggan

mymiraclesandstories:

Enggan beranjak.. tapi kamu pun sudah tidak ada di sini untuk aku temani..

@wiedesignarch

"Bingkai foto bisa menangkap rahasia dan kejujuran, tapi bisa jadi hanya menampakkan sebuah kamuflase dan ironi."

"Dikalahkan olehnya.. Seperti ini rasa dikalahkan? Melawan dan meronta… Sepertinya api begitu dekat di belakangku | Saatnya bergegas."

wiedesignarch

"Terlalu lama berhenti dan menghilang„, kini aku merindukanmu melebihi kesanggupanku mengabaikan…"

wiedesignarch

"Tidak bijaksana jika kita hanya meminta diterima apa adanya, seseorang harus bisa mengajarkan kita lebih gigih untuk mencapai sesuatu."

Wiwied

"Mungkin tak perlu melow, tapi aku mengagumi persahabatan kita lebih karena pertengkaran kita yang membuahkan penerimaan. ^____^"

Wiwied
+ Load More Posts